Langsung ke konten utama

Nikahan dan Reunian - Short Story



Setelah melewatkan 4 hari liburan di Kalimantan, badan mulai kerasa remuk dan bangun pagi menjadi tantangan tersendiri untuk masuk kerja hari ini. Liburan selama 4 hari diisi untuk menghadiri pernikahan sahabat kuliah di Balikpapan, Herlina dan Arief dan kami sebagai sahabat diminta menjadi penyambut tamu pada acara pernikahan tersebut.

Dari acara yang sekaligus menjadi wadah reuni ini,
sebagian hal dari para sahabat telah berubah dan sebagiannya masih sama seperti dulu. Hal-hal yang tidak berubah misalnya nyerocosnya orin yang tak pernah mikir-mikir perkataannya akan menyinggung perasaan orang lain, rempongnya ria dengan urusannya sendiri sebelum ketemuan, bahasa imutnya denok (saking imutnya, orang susah mengerti perkataannya) yang masih sama, jutek-juteknya annisa yang sering gak jelas, coolnya rio dengan bahasa yang super irit sampai sering kali kita lupa dengan kehadirannya di tempat yang sama, “yes” man nya kifli termasuk dalam urusan kerjaan sampai saat ngumpul pun masih ditelpon dari kantor, dan Herlina “sang pengantin”. Dari 10 orang yang biasanya bareng selama kuliah, pada acara hari ini, 2 orang tidak bisa hadir yaitu Praja dan Fandi karena masih dalam proses kuliah di UGM Yogyakarta.

Setelah 3 tahun lulus dari perkuliahan, aktivitas yang mereka jalani memperlihatkan perubahan masing-masing. Ada yang masih membahas mengenai permasalahan kampus, ada yang lebih sering membahas keluarga, ada yang sering membahas usahanya, ada yang sering membahas pekerjaannya, dan lain-lain. Semua perubahan-perubahan topik pembicaraan ini menjadi kombinasi yang menyenangkan dan kembali mengingatkan betapa beragamnya perjalanan kehidupan ini.

Setelah berada di Balikpapan sejak hari sabtu pagi, senin sore kemudian melanjutkan perjalanan ke Samarinda. Pada saat kuliah, gw termasuk orang yang gak terlalu cinta dengan kota ini, tapi gw gak benci juga. Kalo dipersentasekan, tingkat kecintaan terhadap kota tepian ini adalah sekitar 65%. Walaupun demikian, setelah beberapa tahun, rasa kangen terhadap kota Samarinda menjadi semakin sering muncul. Kunjungan 1 malam ini lumayan mengobati rasa kangen tersebut.

Selama di Samarinda, perjalanan sepanjang hari dibantu oleh Maulida, perempuan asal perumahan PLN yang saat ini bekerja di BCA cabang Samarinda dengan hobi terbaru menonton IG Ayasha. Walaupun cuma sebentar, tapi berhasil juga menyempatkan diri melintasi Kampus, salah satu tempat terpenting dalam membangun fondasi hidup (agak berlebihan sih bahasanya).  Setelah itu, berhasil mampir di Perumahan Yescar, basecamp paling bersejarah selama kuliah dan menjadi tempat paling sering dikunjungi setelah kampus. Semua aktivitas bersama dilakukan di rumah tersebut, walaupun dalam hati penghuni lain (Penghuni lain yang tidak termasuk dalam gang), mungkin sering kali muncul gerutu atas kebisingan yang kami ciptakan. Pada saat jam makan siang, saatnya mengunjungi Coto Makassar di simpangan Juanda dan Antashari. Tempat makan yang paling-paling ditunggu dan tempat menghabiskan 8 ketupat dalam sekali seri. Sebelum menuju tempat agen travel perjalanan, gw menyempatkan diri mengunjungi mal baru di Samarinda, Big Mal.

Saat meninggalkan Samarinda dan Balikpapan, ada persaan sedih karena harus berpisah sementara sama sahabat dan kota ini. Kunjungan ke tempat ini baru dilakukan jika ada sahabat yang menyelenggarakan pernikahan, I wish.

Komentar