Langsung ke konten utama

Postingan

Social Marketing

Optimisme bangsa ini akan berawal dari seberapa yakin kita dengan perbaikan yang terjadi kedepannya melalui kontribusi bersama yang kita berikan. Pembahasan mengenai kontribusi tentu tidak akan menghadirkan perbandingan antara bidang apa yang lebih penting dibandingkan dengan bidang lainnya. Tentu sulit untuk mengkuantitatifkan apakah kontribusi positif dalam politik dapat lebih baik dari bidang olahraga, atau membandingkan perbaikan struktur ekonomi makro di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan kontribusi dalam hal kesenian. Perbandingan yang bisa dilakukan adalah membandingkan nilai maksimum antara koefisien antara meaningful time dengan Wasted time . Menurut gw, optimisme bangsa ini muncul dengan beberapa indikasi, salah satunya pergeseran konsep pemasaran dalam beberapa tahun terakhir. Konsep pemasaran saat ini sudah mulai memunculkan hal-hal yang tidak hanya berfokus pada produk-produk yang ditawarkan atau bahkan yang berani me"lebay"kan produknya, tetapi juga ...

My Dream? (And My Proposal)

Dalam beberapa kesempatan, sering beberapa pihak mengatakan bahwa gw memiliki kemampuan public speaking yang lumayan bagus (gak apa2 yah sekali-sekali GR). Secara profil kepribadian DISC ( Dominance, Influence, Steadiness, Conscience ), gw termasuk orang yang cenderung memiliki kepribadian Influence , bahkan influence murni. Influence murni adalah kepribadian yang konsisten muncul baik dalam kondisi normal maupun dalam kondisi tertekan. Dari kecenderungan tersebut, maka beberapa tipe pekerjaan yang sesuai buat gw adalah Salesperson, Pengajar, dll. Namun saat ini, gw "terjebak" dalam pekerjaan di Perbankan. Industri perbankan secara umum merupakan industri yang memiliki remunerasi yang cukup kompetitif dibandingkan industri lainnya, bahkan sekalipun dibandingkan dengan negara Singapura yang memiliki living cost cukup tinggi, industri perbankan Indonesia tak kalah bersaing. Selain itu, dengan status BUMN, menurut Gen X, ini merupakan tempat yang aman untuk berkarir sam...

Menata Hidup

Tulisan ini tidak akan menceritakan mengenai filosofi hidup seperti yang sering disampaikan oleh orang bijak, tidak juga berbicara mengenai teknik pengembangan diri seperti yang  diungkapkan para pakar psikologi, ataupun proses coaching mentoring yang dilakukan oleh atasan kepada bawahannya. Tulisan ini hanya sebatas tulisan ungkapan hati orang yang gagal menyelesaikan kuliahnya sesuai dengan target awal (Memang judulnya agak mendramatisir). Dalam seperempat tahun terakhir alias sejak bulan april sampai dengan awal bulan ini, kayaknya gw kagak ngerjain banyak hal penting dalam hidup gw selain rutinitas kerja dan juga thesis. Hampir 18 Jam dalam setiap harinya habis digunakan untuk kedua hal ini. Perjuangan waktu yang gw lakuin sebenarnya bertujuan agar gw bisa lulus sebelum masuk periode semester ke-5. Alasan utamanya gw bersemangat tentu saja untuk menghindari tambahan uang kuliah. Namun apalah daya, sampai dengan artikel super penting ini ditulis, thesis justru masuk j...

"Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengar dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta?"

Dari sejumlah pahlawan yang ada di Indonesia, pada tanggal 21 April kita akan menjadi lebih sering mendengarkan kisah "Kepahlawanan" Wanita dalam berbagai hal, misalnya keberhasilan Ibu Risma dalam memimpin Kota Surabaya, keberhasilan Ima Matul Maisaroh yang menjadi anggota Dewan Penasehat Presiden Obama, keberhasilan Merry Riana sebagai motivator internasional, dan sebagainya. Cerita keberhasilan ini kemudian akan merujuk pada pahlawan wanita Indonesia yaitu RA Kartini. Beliau dianggap pahlawan yang memperjuangkan hak wanita hingga untuk mendapatkan pendidikan yang layak sebagaimana yang didapatkan kaum pria. Di era gadget telah menjadi alat yang efektif untuk membuat anak kecil berhenti menangis, perjuangan terhadap hak wanita diwujudkan dalam perjuangan mendapatkan persamaan gender. Tak mengherankkan sampai isu seksis ini merambah dunia politik dimana terdapat usulan untuk memberikan kuota jumlah anggota DPR dengan jenis kelamin wanita. Usulan ini diharapkan agar angg...

Tak Terjamah

Fuh.. fuh.. fuh.. *niupin debu-debu yang nyangkut diblog karena sudah sebulan lebih gak diapa-apain. Sebenarnya sih tekad tulus gw adalah pengen benar-benar ngerampungin thesis gw dulu baru mulai nyampah lagi di blog ini. Tapi apalah daya, disaat gw sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nyelesaikannya, dosen pembimbing tercinta gw lagi sibuk meriksa hasil semesteran mahasiswa-mahasiswa yang lain. Sudah hampir 10 hari sejak gw submit terakhir, belum ada feedback yang diberikan. Lama gak sih 10 hari itu? Untuk kalian yang punya waktu unlimited dalam ngerjai tugas, itu mah bentar banget. Tapi bagi gw yang deadline pengumpulan thesisnya sudah lewat 2 minggu yang lalu dan saat ini masih berharap kebaikan hati staff akademik untuk nerima thesis ini, waktu 10 hari itu bagaikan libur kuliah semester genap ditambah dengan libur puasa anak sekolah plus cuti melahirkannya orang yang bekerja. (Iya, gw memang lebay orangnya).

Mei(be Yes)!

Seberapa penting bulan Mei 2016? Sepenting janji gw ke kerabat-kerabat terdekat gw kalo gw akan wisuda bulan Agustus or September tahun ini dan sepenting duit semesteran yang cukup besar bagi gw. Ya, bulan ini bulan Deadline terakhir gw untuk nyelesein thesis di Semester IV. Terhitung sejak hari ini, argo jam pasir gw terus berjalan dan hanya tersisa 25 hari untuk menyelesaikan dan merapikan dari cover hingga daftar pustaka. Untuk lu pade yang pinter-pinter, lu bisa aja bilang waktu satu bulan itu sudah lebih dari cukup untuk nyelesaikan itu. Kalo memang lu berfikir gitu, monggo doain gw biar gw juga bisa sepintar itu. Progress per hari ini adalah gw sudah menyelesaikan dan melaporkan uji validitas dan reliabilitas intrumen penelitian gw kepada dosen tercinta gw, bu Riga. Kalo beliau sudah setuju dan gak ada masalah, secepat kilat lah diri ini untuk ngumpulin data dari anak-anak kampus. Seberapa berkesan bulan Mei menurut gw? Status gw sebagai Mahasiswa S1 tuntas di bulan ini...

Inside & Outside the Box

Apakah lu pernah jadi saksi atau pelaku dari suatu pemecahan masalah dengan cara berfikir baru dan berbeda dari pada umumnya? Apakah lu berfikir ini merupakan salah satu contoh pemikiran " Think Outside The Box" ? Jika lu menjawab pertanyaan kedua dengan "Ya", berarti kita teammate yang perlu membaca buku Inside The Box karya Drew Boyd & Jacob Goldenberg". Setelah gw membaca buku tersebut, sepertinya gw harus melakukan redefinisi tentang " Think Outside the Box ". Konsep Think Outside the Box sepertinya merupakan tagline dari aktivitas apapun yang akan mengarah pada bagaimana kita akan berfikir secara lebih kreatif. Pada buku ini, ia menjelaskan bahwa untuk meningkatkan kreativitas, maka melatih berfikir Inside the Box dapat menjadi salah satu cara yang sangat efektif. Selain itu akan dijelaskan mengenai perbedaan antara Think Outside the Box dibandingkan Inside the Box. Dengan kombinasi penulis yang berasal dari background berbeda, akadem...